Thursday, May 18, 2017

Tentang Profesi, Profesional, Profesionalisme, Profesionalitas, dan Profesionalisiasi Guru

 
Tentang Profesi, Profesional, Profesionalisme, Profesionalitas, dan Profesionalisiasi Guru . Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang salah menggunakan kata profesi, profesional, profesionalisme, profesionalitas, dan profesionalisiasi. Berikut ini diberikan pengertian dari istilah-istilah tersebut.

Profesi

Menurut Satori (2003): “profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) dari para anggotanya. Batasan tersebut mengandung arti bahwa jabatan atau pekerjaan yang disebut profesi itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian, orang yang dengan sengaja dipersiapkan untuk memangku jabatan itu.
 
Bersumber dari istilah profesi muncullah istilah-istilah lain seperti profesional, profesionalisme, profesionalitas dan profesionalisasi. Dalam buku Kapita Selekta Kependidikan SD, Surya dkk. (2000) memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah tersebut sebagai berkut:

Profesional

Istilah profesional mempunyai dua makna, yakni: (1)mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi; (2) Mengacu kepada sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya.

Penyandangan dan penampilan profesional ini telah mendapat pengakuan, baik formal mau pun informal. Pengakuan formal diberikan oleh badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaiu pemerintah atau organisasi profesi. Sedangkan pengakuan secara informal diberikan oleh masyarakat dan para pengguna jasa suatu profesi.

Terkait defenisi tersebut, sebutan guru profesional adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal sesuai ketentuan yang berlaku, baik dalam kaitan dengan jabatannya mau pun dengan latar belakang pendidikan formalnya. Pengakuan ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat dan sebagainya. Dengan demikian, guru SD yang telah memiliki Diploma 2 dapat dikatakan “guru profesional” karena telah memiliki pengakuan formal, dalam hal ini berupa “Diploma II” dan “Akta II”. Sebutan “guru profesional” juga dapat mengacu kepada pengakuan terhadap penampilan seseorang guru dalam unjuk kerjanya dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai guru.

Profesionalisme

Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Pada dasarnya profesiaonalisme itu merupakan motivasi intrinsic pada diri guru sebagai pendorong untuk mengembangkan dirinya kea rah perwujudan profesional. Guru yang memiliki profesiaonalisme tinggi akan menampakkan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Keinginan untuk senantiasa menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. Ia akan mengidentifikasikan dirinya kepada figure yang dipandang memiliki standar ideal. Yang dimaksud standar ideal adalah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan.
  2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi. Ia berkeinginan untuk senantiasa meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perilaku profesional. Citra profesi adalah suatu gambaran terhadap profesi guru berdasarkan pemikiran terhadap kinerjanya. Perwujudan dilakukan melalui berbagai macam cara, misalnya: penampilan, cara bicara, sikap hidup sehari-hari dan sebagainya.
  3. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional. Untuk kategori ini, ia akan memanfaatkan berbagai kesempatan untuk: (a) Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah, seperti lokakarya, seminar, symposium dan sebagainya; (2) Mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan dan (3) Melakukan penelitian, membuat karya ilmiah dan sebagainya.
  4. Mengejar kualitas dan cita-cita profesi. Ia akan berusaha untuk senantiasa mencapai kualitas dan cita-cita sesuai dengan program yang telah ditetapkan. I akan selalu aktif agar seluruh kegiatan dan perilakunya menghasilkan kualitas yang ideal.
  5. Memiliki kebanggaan terhadap profesinya. Guru yang memiliki profesionalisme tinggi akan merasa bangga terhadap profesi yang dipegangnya. Ia menunjukkan rasa percaya diri akan profesinya.
Profesionalitas

Profesionalitas adalah sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Sebutan profesionalitas lebih menggambarkan suatu “keadaan” derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

Profesionalisiasi

Profesionalisasi adalah suatu “proses” menuju kepada perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu criteria yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan profesionalisasi, para guru secara bertahap diharapkan akan mencapai suatu derajat kriteria profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pada dasarnya profesionalisasi merupakan suatu proses pengembangan keprofesian yang sistematis dan berkesinambungan melalui berbagai program pendidikan baik pendidikan prajabatan mau pun pendidikan dalam jabatan. Program ini dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan badan atau organisasi lain yang terkait. Beberapa program profesionalisasi guru yang telah dan sedang berjalan antara lain: (1) program pendidikan guru di LPTK untuk mendidik calon guru yang profesional, (2) program penyetaraan untuk membantu guru mencapai derajat kualifikasi profesional sesuai dengan standar yang berlaku, dan (3) penataran dan pelatihan untuk meningkatkan kualifikasi kemampuan guru.

Tuesday, May 16, 2017

Mengajarkan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika

Mengajarkan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika–Pembelajaran matematika konvensional dan mekanistik yang sering dipraktikkan para guru masa lalu tidak mendidik siswa untuk berpikir kritis. Alih-alih untuk membentuk siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, pembelajaran matematika konvensional justru membawa siswa untuk mengingat atau menghafal tanpa pemahaman. Pembelajaran matematika bermakna jika pembelajaran berhasil membawa siswa untuk dapat berpikir kritis. Lalu apa yang dimaksud dengan berpikir kritis ?

Pikket & Foster ( 1996) seperti yang dinyatakan oleh Rosnawati (2012) menyatakan berpikir kritis adalah jenis berpikir yang lebih tinggi yang bukan hanya menghafal materi tetapi penggunaan dan manipulasi bahan-bahan yang dipelajari dalam situasi baru. Untuk mengembangkan pembelajaran yang dapat mengajarkan berpikir kritis, sebaiknya mengenal indikator keterampilan berpikir kritis. Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa, 1985) yaitu ;memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik.

Keterampilan pada kelima kelompok berpikir kritis ini dirinci lagi sebagai berikut: a). Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan. b). Membangun keteranpilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan sumber, mengamati dan melaporkan hasil observasi. c). Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan, melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi. d). Membuat penjelasan lanjut contohnya mengartikan istilah dan membuat definisi. e). Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi. Keterampilan berpikir kritis peserta didik antara lain dapat dilatih melalui pemberian masalah dalam bentuk soal yang bervariasi.

Sumber.
R. Rosnawati. BERPIKIR KRITIS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENDUKUNG PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA. Makalah: Dipresentasikan dalam Seminar Nasional Pendidikan di Universitas Sanata Dharma. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132001808/penelitian/makalah_an_Rosnawati_UNY_29_Juni_2012_apload.pdf

Sunday, May 14, 2017

Tentang Aktivitas Belajar

Tentang  Aktivitas Belajar - Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran tercipta situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas (2005: 31), Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, maupun menjawab pertanyaan, senang diberi tigas belajar dan lain sebaginya.

Seorang pakar pendidikan, Trinandita (1984) Menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang dituntut dalam prosese pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Beberapa Jenis Aktivitas Belajar

Beberapa Jenis Aktivitas Belajar  - Belajar pada setiap individu akan dilakukan dengan cara dan proses yang berbeda-beda. Adapun aktivitas yang dilakukan individu untuk menjadi lebih baik dalam mempelajari dan memahami suatu materi pelajaran maka dikatakan ia melakukan aktivitas belajar. Namun demikian ,menurut Wasty Soemanto dalam (Irham Wiyani, 2013: 122-124), terdapat beberapa aktivitas yang secara umum disebut sebagai aktivitas belajar sebagai berikut:

1. Mendengarkan

Mendengarkan merupakan salah satu bentuk aktivitas belajar. Hal ini disebabkan dalam proses pembelajaran selalu ada guru yang memberikan materi dengan ceramah, proses presentasi, diskusi, seminar, dan sebagainya. Namun demikian proses mendengar yang tergolong belajar adalah apabila mendengar dilakukan secara aktif dan bertujuan. Selain itu, mendengar merupakan aktivitas belajar karena melalui aktivitas mendengar terjadi interaksi individu dengan lingkungannya.

2. Memandang, Memperhatikan, atau Mengamati

Memandang, memperhatikan, dan mengamati merupakan aktivitas belajar. Namun demikian, tidak semua kegiatan memandang merupakan aktivitas belajar. Hal ini disebabkan belajar memiliki tujuan sehingga apabila kegiatan memandang, memperhatikan, dan mengamti dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, dikatakan melakukan aktivitas belajar.

3. Meraba, Mencium, dan Mencecap

Aktivitas meraba, mencium, dan mencecap merupakan aktivitas belajar. Sama dengan proses lainnya, meraba, mencium, dan mencecap baru dapat dikatakan sebagai aktivitas belajar bila didorong oleh kebutuhan untuk mengetahui, mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan melakukuan perubahan perilaku, baik secara kognitif maupun psikomotorik.

4. Menulis atau Mencatat

Aktivitas menulis atau mencatat termasuk dalam aktivitas belajar. Mencatat akan di kategorikan dalam aktivitas belajar apabila individu menyadari akan tujuannya mencatat serta ada manfaat dari apa yang di catatnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

5. Membaca

Membaca merupakan salah satu bentuk aktivitas belajar. Hal ini disebabkan dalam membaca selalu diawali dengan memperhatikan judul-judul bab, topik pembahasan, dan sebagainya serta menentukan topik yang relavan untuk dipelajari.

6. Membuat Ringkasan atau Ikhtsar dan Menggaris bawahi

Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar merupakan bentuk aktivitas belajar. Hal ini disebapkan untuk membuat sebuah ikhtisar, siswa perlu membaca materi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, secara tidak langsung ia juga telah belajar terlebih lagi rangkuman sangat membatu siswa dalam belajar dan mengingat kembali materi dari buku-buku yang telah dibacanya pada masa – masa yang akan datang.

7. Menyusun Kertas Kerja atau Paper

Kegiatan membuat paper atau kertas kerja dimasukkan pada aktivitas belajar apabila prosesnya dikerjakan sendiri oleh individu siswa. Hal ini disebabkan untuk membuat sebuah paper maka diperlukan rumusan atau pokok bahasan tertentu yang secara tidak langsung menuntut individu untuk mencari, membaca dan memahami sumber – sumber bahan tersebut terlebih dahulu sebelum menuliskannya.

8. Mengingat

Kegiatan mengingat akan dimasukkan dalam kategori aktivitas belajar apabila proses mengingat tersebut didasari atas kebutuhan dan kesadaran siswa untuk mencapai tujuan – tujuan belajar lebih lanjut.

9. Latihan atau Praktik

Kegiatan praktik merupakan aktivitas belajar. Hal ini disebabkan selama proses pelaksanaan praktik, individu akan melakukan interaksi dengan lingkungannya.

Pengertian dan Cara Menyusun Hipotesis

Pengertian dan Cara menyusun Hipotesis - Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis memiliki peran yang penting. Karena hipotesis memberikan arah yang jelas kepada peneliti dalam rangka melakukan verifikasi menuju terwujudnya suatu kesimpulan. Hipotesis merupakan jawaban yang dibangun dan diformulasikan berdasarkan kajian-kajian teori yang relavan, hasil temuan penelitian terdahulu, atau hasil observasi lapangan sementara (terhadap masalah atau variabel terteliti). Karena keberadaan hipotesis sebagai jawaban sementara, maka hipotesis harus diuji kebenarannya berdasarkan data yang terkumpul.

Berikut ini merupakan cara menyusun hipotesis kerja dan hipotesis nihil :

1. Hipotesis Kerja

Hipotesis kerja (Hipotesis Alternatif, Ha) senantiasa diformulasikan dalam bentuk kalimat positif (mengiyakan). Hipotesis kerja dari penelitian ini adalah: Ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan aktivitas belajar matematika siswa SDI Dombe.

2. Hipotesis Nihil

Hipotesis nihil (Hipotesis Nol, Ho) diformulasikan dalam bentuk kalimat negatif. Hipotesis nihil dari penelitian ini adalah: Tidak ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan aktivitas belajar matematika siswa SDI Dombe.

Saturday, May 13, 2017

Ini dia Keunggulan Orang yang memiliki Gaya Belajar Visual

 
Ini dia Keunggulan Orang yang memiliki Gaya Belajar Visual - Seperti yang dijelaskan pada artikel sebelumnya bahwa gaya belajar siswa merupakan  kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Masing-masing individu memiliki kecenderungan pada suatu gaya belajar tertentu. Ada individu yang memiliki gaya belajar visual, auditori maupun kinestetik. Lalu apa keunggulan dari individu yang memiliki gaya belajar visual ?

Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, mengamati, memandang, dan sejenisnya. Kekuatan gaya belajar ini terletak pada indera penglihatan. Bagi orangyang memiliki gaya ini, mata adalah alat yang paling peka untuk menangkap setiap gejala atau rangsangan belajar.


Orang dengan gaya belajar visual senang mengikuti ilustrasi, membaca instruksi, mengamati gambar-gambar, meninjau kejadian secara langsung, dan sebagainya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan metode dan media belajar yang dominan mengaktifkan indera penglihatan (mata)

Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat sehingga mata sangat memegang peranan penting. Gaya belajar secara visual dilakukan seseorang untuk memperolah informasi seperti melihat gambar, giagram, peta, poster, grafik, dan sebagainya. Bisa juga dengan melihat data teks seperti tulisan dan huruf.

Seorang yang bertipe visual, akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar. Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan alat penglihatannya. Sebaliknya merasa sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan bentuk suara, atau gerakan. Dari beberapa pengertian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa orang yang menggunakan gaya belajar visual memperoleh informasi dengan memanfaatkan alat indera mata. Orang dengan gaya belajar visual senang mengikuti ilustrasi, membaca instruksi, mengamati gambar-gambar, meninjau kejadian secara langsung, dan sebagainya.

Thursday, May 11, 2017

Tentang Gaya Belajar

 
Tentang Gaya Belajar - Para peneliti menyepakati secara umum adanya dua kategori utama tentang bagaimana siswa belajar. Pertama, bagaimana siswa menyerap informasi dengan mudah dan kedua, cara siswa mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar siswa merupakan  kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi De Porter & Hernacki, 2013:110)

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatannya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

 Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya (Uno, 2008:180)

Gaya belajar merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan mengenai bagaimana individu belajar atau cara yang ditempuh oleh masing – masing orang untuk berkonsentrasi pada proses, dan menguasai informasi yang sulit dan baru melalui persepsi yang berbeda. Gaya bersifat individual bagi setiap orang, dan untuk membedakan orang yang satu dengan orang lain. Dengan demikian, secara umum gaya belajar diasumsikan mengacu pada kepribadian – kepribadian, kepercayaan – kepercayaan, pilihan – pilihan, dan perilaku – perilaku yang digunakan oleh individu untuk membantu dalam belajar mereka dalam suatu situasi yang telah dikondisikan (Gufron dan Risnawati: 2008:42)