Keterampilan Menyampaikan Pertanyaan

Keterampilan Menyampaikan Pertanyaan - Yang dimakasudkan dengan keterampilan menyampaikan pertanyaan disini adalah bagaiman cara memberi pertanyaan, kapan menyampaikan, kepada siapa pertanyaan tersebut diberikan, dan siapa yang harus menjabnya.

Adapun waktu dalam memberikan pertanyaan adalah ketika menyapaikan pelajaran, ketika menyampaikan pendahuluan pelajaran, ketika menjelaskan materi pelajaran, ketika meluruskan pemahaman atau ketika mengahkiri pelajaran. Intinya, dapat dilakukan pada saat proses penyampaian pelajaran.

Bagaimana Cara Penyampaian Pertanyaan dan Syarat-syaratnya

Harus memberikan pertanyaan kepada semua murid sebelum menunjukan seorang murid untuk menjawabnya. Hal ini akan menciptakan hal-hal sebagai berikut.

Ø Menarik perhatian semua murid. Semua murid memfokuskan perhatiannya kepada guru karena khawatir tiba-tiba jika dirinya ditunjuk untuk men-jawab pertanyaan.

Ø Memberikan kesempatan berpikir kepada semua murid untuk menjawab. Hal ini akan meningkatkan efektifivitas para murid dalam proses pendi-dikan.

Ø Ketika semua murid berpikir untuk menjawab maka semuanya memba-yangkan jawaban untuk dirinya sendiri. Tak kala guru menunjukan salah satu murid untuk menjawab maka para murid yang lain akan mem-bandingkan temannya dengan jawabannya sendiri.

Ø Wajib sebagai seorang guru untuk membagikan pertanyaan kepada para murid dengan adil, sebisa mungkin. Sebuah kesalahan bagi seorang guru apabila dia hanya memfokuskan pertanyaan dan mendiskusikannya hanya dengan beberapa murid saja. Hal ini akan menyebabkan para murid yang lain enggan untuk memperhatikan pelajaran, bahkan membuat kegaduhan. Selain itu, hal itu akan menorehkan luka di hati murid yang lain.

Ø Jangan memberikan pertanyaan kepada murid dengan aturan yang bisa dipakai. Seperti menunjukan sesuai nomor absensi, dan sebagainya. Karena, hal ini akan mengurangi semangat para murid yang tidak men-dapat bagian atau mereka enggan untuk ikut mendiskusi pertanyaan tersebut. Dan, seakan-akan dialog yang ada hanya terjadi antara guru dan murid yang ditunjuk. Sungguh hal ini, akan menyebabkan murid yang lain enggan memperhatikan dan memfokuskan diri pada pertanyaan yang diberikan untuk didiskusikan.

Konsep Konsep Matematika Penting Untuk Pendidikan Anak Usia Dini

Konsep Konsep Matematika Penting Untuk Pendidikan Anak Usia Dini - Pembelajaran matematika untuk anak usia dini sangat berguna bagi perkembangan kecerdasan logika matematika pada anak. Menurut hasil penelitian Dr. Howard Gardner, seorang profesor pendidikan dari Harvard University (Adiningsih, 2008: 5), mengungkapkan bahwa kecerdasan logika matematika merupakan salah satu dari delapan jenis potensi kecerdasan yang dimiliki anak. Anak usia dini dapat dikelompokan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok prasekolah (0-3 tahun). Kelompok kedua adalah kelompok anak yang sudah mampu mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (3-6 tahun).

Menurut Lestari KW (Konsep Matematika untuk Anak Usia Dini: 2011), berdasarkan pengelompokan anak usia dini di atas, terdapat beberapa konsep matematika yang harus diajarkan kepada anak usia dini. Untuk kelompok anak usia 0-3 tahun perlu dilakukan pengenalan konsep-konsep matematika. Sedangkan untuk kelompok anak usia 3-6 tahun dilakukan pengembangan konsep matematika kepada anak. Berikut ini beberapa konsep matematika yang perlu diajarkan kepada anak usia dini:

1. Konsep Angka

Angka merupakan hal yang paling dasar pada matematika. Mengajarkan konsep angka pada anak usia dini dilakukan melalui dua tahapan. Pertama, mengenalkan konsep angka kepada anak usia 0-3 tahun. Kedua, mengembangkan konsep angka pada anak usia 3-6 tahun.

Untuk mengenalkan konsep angka pada anak usia dibawah 3 tahun dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:

a. Membilang, yaitu menyebutkan bilangan berdasarkan urutan.
b. Mencocokan setiap angka dengan benda yang sedang dihitung.
c. Membandingkan antara kelompok benda satu dengan kelompok benda yang lain untuk mengetahui jumlah benda yang lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.

Anak-anak mulai dapat mengembangkan pemahamannya tentang konsep angka bila mereka diajak menggunakan angka-angka di dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Misalnya mengajak anak menyanyikan lagu yang memuat angka seperti lagu Satu-satu.

Setelah anak mengenal angka, maka perlu dikembangkan pemahaman anak. Konsep angka dikembangkan melalui 3 tahap:

a. Menghitung. Tahap awal menghitung pada anak adalah menghitung melalui hapalan atau membilang. Orang tua dapat mengembangkan kemampuan ini melalui kegiatan menyanyi, permainan jari, dan sebagainya yang berhubungan dengan angka.
b. Hubungan satu-satu. Maksudnya adalah menghubungkan satu dan hanya satu angka dengan benda yang berkaitan. Misalnya memasangkan lambang bilangan 1 dengan gambar 1 ekor monyet.
c. Menjumlah, membandingkan dan simbol angka. Ketika orang tua meminta anak mengambilkan 3 buah biskuit dan anak membawa 3 buah biskuit. Anak tersebut mengerti tentang konsep jumlah. Anak yang paham urutan angka, akan tahu bahwa jika menghitung 3 biskuit dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri maka jumlahnya akan sama.

Anak yang paham konsep perbandingan akan paham benda yang lebih besar, jumlahnya lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.

2. Konsep Pola dan Hubungan

Pola merupakan susunan benda yang terdiri atas warna, bentuk, jumlah, atau peristiwa. Contoh susunan pola berdasarkan ukuran yaitu besar, kecil. Susunan pola berdasarkan warna yaitu merah, biru, merah, biru. Susunan pola berdasarkan peristiwa sehari-hari yaitu sesudah makan biskuit, saya minum susu.

Untuk mengembangkan kemampuan mengenal pola dan hubungan, anak perlu diberi banyak kesempatan untuk mengenali dan memanipulasi benda serta mencatat persamaan dan perbedaannya. Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan pola dan hubungan pada anak diantaranya adalah mengajak anak bermain menyusun antrian mobil-mobilan membentuk pola barisan merah, hitam, merah, hitam, merah, hitam.

Kemampuan anak dalam pola dan hubungan akan bermanfaat dalam penerimaan pelajaran deret dan relasi-fungsi. Pada deret anak dituntut mampu mengembangkan pola urutan. Sedangkan pada relasi-fungsi anak dituntut mampu mengembangkan hubungan.

3. Konsep Hubungan Geometri dan Ruang

Pengertian yang dimaksud di sini adalah anak mengenal bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segi empat, persegi, lingkaran yang sama dan posisi dirinya dalam suatu ruang. Anak bisa paham tentang pengertian ruang ketika anak sadar akan posisi dirinya jika dihubungkan dengan penataan benda-benda di sekelilingnya. Anak belajar tentang tempat dan posisi, seperti: di atas, di bawah, pada, di dalam, di luar. Selain itu, anak juga belajar tentang pengertian jarak, seperti: dekat, jauh dan sebagainya.

Mengenalkan hubungan geometri dan ruang pada anak bisa dilakukan dengan cara mengajak anak bermain sambil mengamati berbagai benda di sekelilingnya. Anak akan belajar bahwa benda yang satu mempunyai bentuk yang sama dengan benda yang lain. Orang tua yang memiliki anak usia 1-3 tahun dapat menyediakan balok-balok lunak atau kardus-kardus bekas obat dari berbagai ukuran agar anak bisa bereksplorasi dan membangun. Pertama anak belajar mengenal bentuk-bentuk sederhana seperti segitiga, lingkaran, segi empat. Kedua, anak belajar tentang ciri-ciri dari setiap bentuk geometri. Selanjutnya, anak belajar menerapkan pengetahuannya untuk berkreasi membangun dengan bentuk-bentuk geometri.

4. Konsep Memilih dan Mengelompokan

Memilih dan mengelompokan meliputi kemampuan mengamati dan mencatat persamaan dan perbedaan benda. Anak usia di bawah tiga tahun mengenal persamaan dan perbedaan melalui kelima indera mereka pada saat bereksplorasi dengan benda-benda di sekitarnya. Anak belajar melalui memperhatikan, mendengar, menyentuh, merasakan, mencium bau benda-benda yang dimainkannya, sehingga mengetahui benda-benda yang sama dan yang berbeda.

Menurut Lestari KW (2011: 16-17) beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengelompokan pada anak:

a. Pada bayi 8-12 bulan: Sediakan 2 macam buah-buahan masing-masing jenis 3, misal: apel dan jeruk pada sebuah wadah. Ajaklah anak untuk memilih buah dan meletakan di luar wadah.
b. Pada anak 12-24 bulan: Sediakan 5 buah balok lunak warna merah. Ajak anak untuk membariskan balok-balok tersebut seperti barisan balok berdasarkan pola warna merah.
c. Pada anak 24-36 bulan: Sediakan 1 keranjang dan beberapa bola plastik terdiri dari 3 warna, masing-masing warna 4 bola. Ajak anak untuk memasukan semua bola yang berwarna misalnya yang berwarna kuning ke keranjang.

5. Konsep Pengukuran

Anak belajar pengukuran dari berbagai kegiatan yang membutuhkan kreativitas. Tahap awal anak tidak menggunakan alat, tetapi mengenalkan konsep lebih panjang, lebih pendek, lebih ringan, cepat, dan lebih lambat. Tahap berikutnya, anak diajak menggunakan alat ukur bukan standar, seperti pita, sepatu, dan sebagainya. Pada tahap lebih tinggi, anak diajak menggunakan jam dinding, penggaris, skala, termometer. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan pengukuran pada anak adalah mengajak anak mengukur panjang dan lebar rak mainan menggunakan tali atau pita.

6. Pengumpulan, Pengaturan dan Tampilan Data

Pada awalnya anak memilih mainan tanpa spesifikasi. Selanjutnya anak memilih mainan dengan spesifik, misalnya berdasarkan warna, ukuran, atau bentuk. Pada tahap yang lebih tinggi anak dapat memilih mainan berdasarkan lebih dari satu variabel, misal berdasarkan warna dan bentuk, atau warna, bentuk dan ukuran.

Membuat grafik merupakan cara anak untuk menampilkan bermacam-macam informasi atau data dalam bentuk yang berlainan. Misalnya anak membuat grafik sederhana tentang mainan kesukaan anak. Pengetahuan anak tentang pengumpulan berhubungan dengan statistika.

Contoh kegiatan yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan pengumpulan, pengaturan dan tampilan data pada anak diantaranya mengajak anak mengumpulkan bermacam-macam daun-daunan. Kemudian ajak anak mengelompokan bentuk daun-daunan tersebut. Setelah itu, buatlah daftar tentang jumlah daun untuk setiap bentuknya dengan cara menyusun daun-daunan yang sama menjadi barisan tegak lurus ke atas. Ajak anak mencatat jumlah setiap kelompok daun.

Sumber:

Adiningsih, N. U. 2008. Permainan Kreatif Asah Kecerdasan Logis-Matematis. Bandung: Semesta Parenting.

Lestari KW. 2011. Konsep Matematika untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal. Kementerian Pendidikan Nasional. 
http://ceritabersama-tati.blogspot.co.id


Kewirausahaan Bidang Pendidikan

Kewirausahaan Bidang Pendidikan - Semua orang dari beragam profesi dan bidang ilmu memiliki peluang untuk berwirausaha, tidak terkecuali guru. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, guru memiliki pasar yang potensial. Untuk itu guru dituntut untuk kreatif untuk memanfaatkan peluang untuk berbisnis di bidang pendidikan. Yang dimaksud dengan bisnis di bidang pendidikan tidak berhubungan langsung dengan lembaga yang menjadi tempat mengabdi yaitu sekolah.

Bidang pendidikan merupakan bidang dengan potensi bisnis yang besar dan beragam. Berikut ini adalah usaha-usaha yang dapat ditekuni guru untuk mendapatkan penghasilan tambahan selain profesinya sebagai guru.

1. Les Pelajaran (Privat)

Les privat nampaknya menjadi bisnis di bidang pendidikan yang membutuhkan modal relatif kecil namun bisa menjanjikan penghasilan yang relatif besar. Modal Anda adalah pengetahuan, waktu, kendaraan, dan tenaga. Anda hanya tinggal menyediakan waktu dan tenaga untuk memberikan pengajaran yang lebih intens pada anak didik yang merasa kesulitan mendalami pelajaran di sekolah. Keuntungan dari menekuni bisnis ini adalah Anda mendapatkan penghasilan yang relatif besar (tergantung pada tingkat pendidikan murid yang Anda ajar), terkadang masih mendapatkan suguhan yang tidak sedikit, hingga belajar mendidik anak. Dengan menjadi pribadi yang mengajar secara independen, bukan tergabung pada lembaga bimbingan belajar, Anda tidak akan terbebani dengan berbagai aturan dan target jam mengajar yang harus dipenuhi. Selain itu, fee yang Anda terima tentu tidak akan terpotong.

2. Les Baca Tulis Hitung atau Calistung

Tingkat mobilitas masyarakat modern yang relatif tinggi terkadang harus membuat mereka meninggalkan anak demi bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Akibatnya sudah bisa ditebak, anak menjadi hanya memiliki sedikit waktu dengan orang tua dan kesempatan untuk belajar menjadi lebih sedikit. Maka dari itu tak heran banyak orang tua yang akhirnya ‘melimpahkan’ tanggung jawab dalam mengajar dan mendidik anak kepada orang lain dalam beberapa kebutuhan, salah satunya adalah mengajarkan anak untuk membaca, menulis, dan menghitung. Bisnis ini bisa Anda tekuni terutama Anda yang memang menyukai dan sabar terhadap anak-anak.

3. Membuka Sekolah PAUD

PAUD merupakan singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Bisnis satu ini juga bisa menjadi alternatif yang akan Anda geluti akan tetapi perlu Anda ketahui bahwa bidang bisnis satu ini tidak bisa dijalankan sendiri. Ajaklah beberapa teman dan kerja sama dengan beberapa pihak untuk menjalankan program PAUD yang biasanya dilakukan dalam lingkungan desa.

4. Kursus Bahasa Asing

Saat ini, kemampuan bahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang wajib dimiliki untuk melamar pekerjaan, setidaknya kemampuan untuk berbahasa Inggris. Jika Anda memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengajar bahasa asing, jangan ragu untuk menjadikan hal tersebut sebagai bisnis Anda. Ajaklah beberapa rekan yang memiliki keterampilan serupa untuk turut berpartisipasi sebagai tenaga pengajar. Kemungkinan bisnis ini berjalan dan bertahan relatif besar mengingat kebutuhan masyarakat akan pengajaran dan pendidikan bahasa asing semakin meningkat.

5. Kursus Komputer

Selain mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, kemampuan dan keterampilan lain yang tidak kalah penting untuk melamar pekerjaan dalam sebuah perusahaan adalah keterampilan menggunakan komputer beserta software di dalamnya. Anda yang merasa mampu dan menguasai ilmu komputer boleh saja mendirikan sebuah bisnis yang berkecimpung dalam pendidikan komputer. Targetnya bisa saja anak sekolah maupun orang dewasa yang memiliki kebutuhan khusus untuk bisa mengoperasikan komputer dan software tertentu. Tarifnya pun relatif tinggi dan hal ini berpotensi mengundang keuntungan yang tidak sedikit.

6. Stationary

Selain bisnis yang bergerak di bidang lembaga pengajaran dan pendidikan, Anda juga bisa memanfaatkan peluang anak sekolah yang membutuhkan berbagai alat tulis dengan membuka bisnis stationary. Anda bahkan tidak hanya menyasar target pelajar namun juga pekerja kantoran yang membutuhkan alat tulis lengkap. Semakin lengkap produk yang Anda jual di toko dengan beragam variasi baik dari segi merek, harga, maupun kualitas, semakin tinggi minat konsumen untuk berbelanja di toko Anda serta loyalitas mereka pada Anda.

7. Toko Seragam Sekolah

Kebutuhan lain yang tidak kalah pentingnya bagi anak sekolah adalah seragam. Anda bisa memanfaatkan peluang ini dengan membuka toko seragam sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Peluang lain yang bergerak di bidang sejenis adalah menerima pesanan seragam dengan model dan tema yang bisa disesuaikan dengan permintaan konsumen. Semakin variatif jenis kain seragam dan model seragam yang Anda jual, semakin tinggi kemungkinan bisnis Anda berlangsung lama dan stabil karena konsumen merasa Anda bisa menyediakan kebutuhan mereka secara lengkap.

8. Jasa Antar Jemput Anak Sekolah

Karena tidak semua orang tua bersedia menyisihkan waktu mereka untuk mengantar-jemput anak mereka, Anda bisa memanfaatkan peluang jasa antar jemput anak sekolah ini sebagai jawaban bagi orang tua yang sibuk. Modal yang Anda butuhkan adalah mobil yang layak pakai dan sanggup menampung hingga 10 atau 15 anak sekolah untuk sekali jalan. Bisnis ini mampu menjanjikan penghasilan dan keuntungan besar sebab modal yang dibutuhkan selain mobil hanyalah bahan bakar dan tenaga supir. Tiga hal kunci yang menjadi kesuksesan bisnis ini adalah kedisiplinan, keamanan, serta keselamatan bagi anak yang menumpang.

9. Membuka Toko Buku, Perpustakaan dan Fotocopy.

Para siswa pasti akan berhubungan dengan buku, oleh karenanya sebagai guru yang mengetahui seluk-beluk kurikulum perlu menyediakan fasilitas ini. Tentu saja untuk berwirausaha di bidang ini membutuhkan biaya atau modal yang tidak sedikit tetapi menawarkan keuntungan yang besar. Selain menjual buku, guru dapat menyediakan perpustakaan yang menarik biaya sewa pada pengunjungnya. Dari pengujung inilah, bisnis fotocopy dapat berjalan karena mungkin saja para pengunjung berkepentingan untuk mengkopi buku yang dibutuhkannya.

Tentang Motivasi Berprestasi

Tentang Motivasi Berprestasi - Istilah Need for achievement pertama kali dipopulerkan oleh Mc Clelland dengan sebutan n-ach sebgai singkatan dari need for achievement. Mc Clelland menganggap n-ach sebagai virus mental. Virus mental tersebut merupakan suatu fikiran yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan baik, lebih cepat lebih efisien dibanding dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya. Kalau virus mental tersebut bertingkah laku secara giat (Weiner,1985: 35).

Menurut Mc Clelland (1987: 40) pengertian motivasi berprestasi didefinisikan sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri. Lindgren (1976: 67) mengemukakan hal senada bahwa motivasi berprestasi sebagai suatu dorongan yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi serat mengatur lingungan sosial maupun fisik, mengatasi segala rintangan dan memelihara kualitas kerja yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi hasil kerja yang lampau, serta mengungguli hasil kerja yang lain.

Senada dengan pendapat di atas, Santrork (2003: 103) menjelaskan bahwa motivasi berprestasi merupakan keinginan untuk menyelesaikan sesuatu untuk mencapai suatu standar kesuksesan, dan untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan untuk mencapai kesuksesan. Gagne dan Barliner (1975: 77) menambahkan bahwa motivasi berprestasi adalah cara seseorang untuk berusaha dengan baik untuk prestasinya.

Menurut Heckhausen (1967: 54) motif berprestasi diartikan sebagai usaha untuk meningkatkan atau melakukan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam segala aktivitas dan suatu ukuran keunggulan tersebut digunakan sebagai pembanding, meskipun dalam usaha melakukan aktivitas tersebut ada dua kemungkinan yakni gagal atau berhasil. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa motivasi berprestasi merupakan motif yang mendorong individu untuk mencapai sukses dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi dengan beberapa ukuran keunggulan (standard of excellence). Ukuran keunggulan digunakan untuk standar keunggulan prestasi dicapai sendiri sebelumnya dan layak seperti dalam suatu kompetisi.

Dalam teori expectancy-value Atkinson (1960: 56) mengemukakan bahwa motivasi berprestasi seseorang didasarkan atas dua hal yaitu, adanya tendensi untuk meraih sukses dan adanya tendensi untuk menghindari kegagalan. Pada dasarnya keadaan motif itu dimiliki oleh individu, namun keduanya mempunyai keadaan berbeda-beda dalam berbagai situasi dan kondisi menurut adanya prestasi. Lebih jelasnya Atkinson (1958: 34) mengemukakan bahwa keberhasilan individu untuk mencapai kebehasilan dan memenangkan persaingan berdasarkan standar keunggulan, sangat terkait dengan tipe kepribadian yang memiliki motif berprestasi lebih tinggi daripada motif untuk menghindari kegagalan begitu pula sebaliknya, apabila motif menghindari terjadinya kegagalan lebih tinggi daripada motif sukses, maka motivasi berprestasi seseorang cenderung rendah.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi atau achievement motivation merupakan suatu dorongan yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat, lebih efisien dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri.

Heckhausen. (1967). The Anatomy Of Achievement Motivation. New York: Academy Press.
Gagne, N.L. &Barliner, D.C. (1975). Educational Psychology. Boston: Hoghton Miflin Atkinson, J.W. (1958). Motives in Fantasy, Action and Society: A Method of Assesment and Study. Princeton, New York: Van Nostrand.
Weiner, B. (1985). An Atributional Theory Of Achievement Motivation And Emotion. Psychological Review,92, 548-573
McClelland, D.C. (1987). The Achievement Motives. New York: Appleton Century Craffts.
Lindgren, H.C. (1976). Educational Psychology In The Classroom. New york: John Wiley & Sons
Santrork, J.W. (2003). Adolesence: Perkembangan Remaja. Jakarta :Erlangga

Sumber:

Dyah , Ardhini (2012) HUBUNGAN MOTIVASI BERPRESTASI DAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS OLAHRAGA SMP NEGERI 4 PURBALINGGA. S1 thesis, UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. http://eprints.uny.ac.id/9175/

Antara Jari Tangan dan Pembelajaran Matematika

Antara Jari Tangan dan Pembelajaran Matematika - Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dengan jari-jari tangan manusia. Media pembelajaran benda konkret sitem jari-tangan dapat dimanfaatkan sebagai alat hitung perkalian bilangan sebagai pengganti kalkulator.

Allyn and Bacon dalam bukunya yang berjudul “ Helping Children Learning Mathematics”, menggunakan sistem jari tangan sebagai Alat atau media yaitu alat untuk menghitung operasi perkalian bilangan faktor 6, 7, 8, 9, dan 10. Keterampilan hitung operasi perkalian sistem jari tangan yang dikembangkan oleh Allyn and Bacon dengan Formulasi nilai semu jari-jari tangan faktor bilangan 6 sampai dengan 10, sebelum dioperasikan adalah sebagai berikut :

1.Melipat Jari tangan kiri sesuai dengan beda atau kurangnya berapa dari bilangan 10 faktor bilangan Pengali pada telapak tangan kiri.

2. Melipat Jari tangan kanan sesuai dengan beda atau kurangnya berapa dari bilangan 10 faktor bilangan Yang akan dikalikan pada telapak tangan kanan.

3. Jari-jari tangan kanan dan kiri yang tidak dilipat bernilai bilangan puluhan

4. Jumlahkan jari-jari tangan kiri yang tidak dilipat.

5. Jari tangan kanan dan kiri yang dilipat bernilai bilangan satuan

6. Kalikan . Jari tangan kanan dan kiri yang dilipat.

7. Jumlah total adalah jumlah nilai bilangan dari jari-jari kanan dan kiri yang tidak dilipat dan nilai bilanag

dari jari-jari kanan serta kiri yang dilipat.

Contoh 1. Cari hasil penyelesaian faktor bilangan 7 X 9 = . . .menggunakan sistem jari tangan !

Cara Penyelesaian :

Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Jari –jari tangan kiri : faktor 7 beda 3 dari 10, lipat tiga jari pada jari tangan telapak tangan kiri.

2. Jari-jari tangan kanan : faktor 9 beda 1 dari 10, lipat satu jari pada jari tangan telapak tangan kanan.

3. Jari-jari tangan kanan dan kiri yang tidak dilipat sebagai bilanag puluhan = 10+10+10+10+10+10= 60

4.Jari tangan kanan dan kiri yang dilipat sebagai bilangan satuan = 3 X 1 = 3

Jumlah total = 60 + 3 = 63

Jadi operasi perkalian faktor bilangan 7 X 9 adalah sama dengan 63 atau 7 X 9 = 63.

Contoh 2 : Carilah hasil penyelesaian perkalian bilangan faktor 9 x 9 = . . ., menggunakan sistem jari tangan !

Jawab :

Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Jari –jari tangan kiri : faktor 9 beda 1 dari 10, lipat satu jari pada jari tangan telapak tangan kiri.

2. Jari-jari tangan kanan : faktor 9 beda 1 dari 10, lipat satu jari pada jari tangan telapak tangan kanan.

3. Jari-jari tangan kanan dan kiri yang tidak dilipat sebagai bilanag puluhan

= 10 + 10 + 10 + 10 + 10 + 10 + 10 + 10 = 80

4.Jari tangan kanan dan kiri yang dilipat sebagai bilangan satuan = 1 X 1 = 1

Jumlah total = 80 + 1 = 81

Jadi operasi perkalian faktor bilangan 9 X 9 adalah sama dengan 81 atau 9 X 9 = 81.

Hendra dalam bukunya yang berjudul : “ Pintar Matematika”, menggunakan sistem jari tangan sebagai Alat atau media yaitu alat untuk menghitung operasi perkalian bilangan faktor 6, 7, 8, 9, dan 10.Keterampilan hitung operasi perkalian sistem jari tangan yang dikembangkan oleh Hendra untuk faktor bilangan 6 sampai dengan 10, dengan Formulasi nilai semu jari-jari tangan sebelum dioperasikan adalah sebagai berikut::

Nomor Nama Jari Nilai bilangan

1 Kelingking 6

2 Jari Manis 7

3 Jari Tengah 8

4 Jari Telunjuk 9

5 Jempol/ Ibu jari 10

Formula Sistem Jari Tangan I = ( B1 + B2 ) + ( A1 x A2)

Keterangan : A1 = Jari tangan kiri yang dilipat bernilai bilangan satuan.

A2 = Jari tangan kanan yang dilipat bernilai bilangan satuan

B1 = Jari tangan kiri yang tidak dilipat bernilai bilangan puluhan

B2 = = Jari tangan kananyang tidak dilipat bernilai bilangan puluhan

Contoh 1. Cari hasil penyelesaian faktor bilangan 7 X 9 = . . .menggunakan sistem jari tangan !


Cara Penyelesaian :

Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1.Faktor 7 :

A1 = Jari-jari tangan kiri yang di lipat ( Jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari )

2. Faktor 9 :

A2 = Jari-jari tangan kanan yang dilipat (kelingking, jari manis, jari tengah dan telunjuk).

3. faktor 7 :

B1 = Jari-jari telapak tangan kiri yang tidak dilipat ( kelingking dan jari manis ( 10 + 10 ) ,

jadi B1 = 20)

4. Faktor 9

B2 = Jari telapak tangan kana yang tidak dilipat = kelingking, jari manis, jari tengah, Telunjuk (B2 = 10 +

10 + 10 + 10 = 40, jadi B2 = 40

10

5.Masukan ke Formula Kejar I = ( B1 + B2 ) + ( A1 x A2)

= ( 20 + 40 ) + ( 3 x 1 )

= 60 + 3

jumlah total = 63

Jadi hasil penyelesaian operasi perkalian faktor bilangan 7 X 9 = 63.

Contoh 2 : Carilah hasil penyelesaian perkalian bilangan faktor 9 x 9 = . . ., menggunakan sistem jari

tangan !

Cara Penyelesaian :

Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Faktor 9,

A1 = jari tangan telapak tangan kiri yang dilipat = (ibu jari = 1) .

2. Faktor 9 :

A2 = jari tangan telapak tangan kanan yang dilipat = (ibu jari = 1)

3. Faktor 9 :

B1 = Jari-jari telapak tangan kiri yang tidak dilipat = jari kelingking, jari manis, jari tengah, dan jari

tlunjuk ( B1 = 10 + 10 + 10 + 10 = 40 , jadi B1 = 40)

4. Faktor 9

B2 = = Jari-jari telapak tangan kanan yang tidak dilipat = jari kelingking, jari manis, jari tengah, dan jari

tlunjuk ( B2 = 10 + 10 + 10 + 10 = 40 , jadi B1 = 40)

5.Masukan ke Formula Sistem Jari Tangan I = ( B1 + B2 ) + ( A1 x A2)

= ( 40 + 40 ) + ( 1 x 1 )

= 80 + 1

jumlah total = 81

Jadi hasil penyelesaian operasi perkalian faktor bilangan 9 X 9 = 81

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa operasi perkalian bilangan sederhana faktor 6 sampai dengan 10 dapat diselesaikan menggunakan formula perkalian sistem jari tangan.

Bidang- bidang Pengembangan Kreativitas Guru PAUD

Bidang- bidang Pengembangan Kreativitas Guru PAUD -  Dalam kegiatan belajar mengajar perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kreatifitas siswa. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati akan mengemukakan tujuh bidang- bidang pengembangan kreatifitas guru yakni:

1) Pengembangan kreativitas melalui menciptakan produk (hasta karya)

Pengembangan kreatifitas pada anak melalui kegiatan hasta karya ini memiliki posisi penting dalam berbagai aspek perkembangan anak. Tidak hanya kreatifitas yang akan terfasilitasi untuk berkembang dengan baik, tetapi juga kemampuan kognitif anak.

2) Pengembangan kreativitas melalui imajinasi

Imajinasi yang dimaksud adalah kemampuan berfikir divergen seseorang yang dilakukan tanpa batas, seluas-luasnya dan multiperspektif dalam proses merespon suatu stimulasi dengan imajinasi anak dapat mengembangkan daya pikir dan daya ciptanya tanpa dibatasi kenyataan dan realitas sehari- hari.

3) Pengembangan kreativitas melalui eksplorasi

Eksplorasi dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk melihat, memahami, merasakan, dan pada akhirnya membuat sesuatu yang menarik perhatian mereka. Kegiatan seperti ini dilakukan dengan cara mengamati dunia sekitar sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung. 14

4) Pengembangan kreativitas melalui eksperimen

Eksperimen yang dimaksud disini adalah mereka dapat mengetahui cara atau proses terjadinya sesuatu, dan mengapa sesuatu itu dapat terjadi serta bagaimana mereka dapat menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada dan pada akhirnya mereka dapat membuat sesuatu yang bermanfaat dalam kegiatan tersebut.

5) Pengembangan kreativitas melalui proyek

Metode yang bisa digunakan salah satu di antaranya adalah metode proyek. Metode proyek ini merupakan metode pembelajaran yang dilakukan anak untuk melakukan pendalaman tentang suatu topik pembelajaran yang diminati satu atau beberapa anak.

6) Pengembangan kreativitas melalui musik

Musik merupakan sesuatu yang nyata dan senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Seorang anak yang kreatif antara lain tampak pada rasa ingin tahu, sikap ingin mencoba, dan daya imajinasi anak.

7) Pengembangan kreatifitas melalui bahasa

Mereka sering berbicara untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Sikap ini mendorong meningkatkan penggunaan bahasa dan dialog dengan yang lain. Sebagian anak mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata- kata dan menunjukkannya dengan perbuatan. Dapat dilakukan melalui kegiatan mendongeng, sosiodrama, mengarang cerita dan puisi.

Menurut bidang-bidang pengembangan kreativitas yang disebutkan diatas maka bidang-bidang kreatifitas itu mencakup menciptakan produk, imajinasi, eksplorasi, eksperimen, proyek, musik, dan bahasa, dan diharapkan seorang guru dapat mengembangkan kreatifitas dalam bidang-bidang tersebut agar siswa dapat mengeluarkan potensi yang dimilikinya.

Tujuan Pengembangan Kreativitas Bagi Anak

Tujuan Pengembangan Kreativitas - Menurut Utami Munandar (2002:60) yang dituangkan pada salah satu bukunya Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini, ada alasan mengapa kreativitas penting untuk dimunculkan, dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak, antara lain :

Pertama, dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya. Perwujudan diri adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Kedua, kemampuan berpikir kreatif dapat melihat berbagai macam penyelesaian suatu masalah. Mengekspresikan pikiran-pikiran yang berbeda dari orang lain tanpa dibatasi pada hakikatnya akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan. Ketiga, bersibuk secara kreatif akan memberikan kepuasan kepada individu tersebut. Hal ini penting untuk diperhatikan karena tingkat ketercapaian kepuasan seseorang akan mempengaruhi perkembangan sosial emosinya. Keempat, dengan kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Gagasan-gagasan baru sebagai buah pemikiran kreatif akan sangat diperlukan untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Jadi tujuan mengembangkan kreativitas anak adalah sebagai berikut :

1. Mengenal cara mengekspresikan diri melalui hasil karya dengan menggunakan teknik-teknik yang dikuasainya.
2. Mengenalkan cara dalam menemukan alternatif pemecahan masalah.
3. Membuat anak memiliki sikap keterbukaan terhadap berbagai
4. pengalaman dengan tingkat kelenturan dan toleransi yang sangat tinggi terhadap ketidakpastian.
5. Membuat anak memiliki kepuasan diri terhadap apa yang dilakukannya dan sikap menghargai hasil karya orang lain.
6. Membuat anak kreatif, yaitu anak yang memiliki :

a. Kelancaran untuk mengemukakan gagasan
b. Kelenturan untuk mengemukakan berbagai alternatif pemecahan masalah
c. Orsinalitas dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran
d. Elaborasi dalam gagasan
e. Keuletan dan kesabaran atau kegigihan dalam menghadapi rintangan dan situasi yang tidak menentu.